Setitik Kisah Hidup Bupati Purwakarta

Dedi Mulyadi, dilahirkan dari keluarga sederhana di Kampung Sukadaya, Desa Sukasari, Kabupaten Subang pada tanggal 11 April 1971. Dedi Mulyadi adalah anak bungsu dari 9 bersaudara, putra pasangan Sahlin Ahmad Suryana dan Karsiti. Ayah Dedi Mulyadi adalah seorang pensiunan Tentara Prajurit Kader yang dipensiunkan muda pada usia 28 tahun akibat sakit yang diderita sebagai dampak racun mata-mata kolonial, sementara ibu Dedi Mulyadi, yang tidak bersekolah, pada waktu mudanya merupakan aktivis Palang Merah Indonesia.


Dedi Mulyadi konon dilahirkan dengan sulit oleh ibu. Butuh 3 hari 3 malam hingga persalinan baru bisa selesai dengan bantuan seorang bidan. Di masa kecil, Dedi Mulyadi senang sekali bermain perang-perangan dan setiap kali bermain, Dedi Mulyadi selalu mengambil peran sebagai komandan dengan pangkat Kolonel, sementara teman-teman sebaya diberi pangkat kopral. Masa kanak-kanak Dedi Mulyadi habiskan dengan menggembala ternak, menyabit rumput dan mengumpukan kayu bakar yang bertahan dari sejak SD sampai tamat SMA.

Meskipun pernah tidak naik kelas pada saat duduk di kelas 1, selama menjadi siswa SD, Dedi Mulyadi selalu menjadi Ketua Kelas dan mendapat ranking pertama pada setiap tahunnya.

Jenjang pendidikan SMP Dedi Mulyadi lalui dengan keprihatinan. Untuk mencapai sekolah saja, jarak yang harus ditempuh setiap hari lebih kurang 20 KM, itu pun ditempuh dengan menggunakan sepeda dengan kondisi yang alakadarnya. Mulai dari sepeda yang dibeli dari hasil jerih payah sendiri seharga Rp 3.500,- hingga sepeda yang berharga Rp 120.000,- dari hasil penjualan kambing yang Dedi Mulyadi pelihara.

Postur tubuh yang kecil, mengakibatkan Dedi Mulyadi dijuluki si Unyil, namun tidak menjadi hambatan untuk dikenal karena kemampuan Dedi Mulyadi dalam berpidato, berdakwah dan membaca puisi, serta selalu menjadi juara dalam bidang puisi, dakwah dan pidato.

Masa SMA Dedi Mulyadi lewati dengan keprihatinan pula, bersekolah sambil menjadi tukang juru photo, berjualan layang-layang, menjadi penarik ojek, segala hal yang bisa menghasilkan uang Dedi Mulyadi lakukan, seperti berjualan es dan agar-agar.

Setamat SMA, Dedi Mulyadi gagal masuk AKABRI dan Secaba TNI AD. Kemudian Dedi Mulyadi pindah ke Purwakarta dan tinggal bersama kakak yang hidupnya sangat pas-pasan. Kami tinggal di rumah kontrakan yang hampir roboh. Selama 3 tahun Dedi Mulyadi tidak mengenal kasur, karena Dedi Mulyadi harus tidur dengan hanya beralaskan lantai.

Jenjang pendidikan Dedi Mulyadi lanjutkan dengan kuliah di STH Purnawarman Purwakarta, sambil berjualan makanan di kantin SMEA Purnawarman serta aktif sebagai Ketua HMI Cabang Purwakarta. Berbagai peristiwa pedih Dedi Mulyadi alami, sampai Dedi Mulyadi pernah tidak makan selama tiga hari karena tidak punya uang untuk membeli nasi, karena uangnya habis untuk operasional kegiatan organisasi.

Untuk menyelesaikan kuliah dan menyusun skripsi, Dedi Mulyadi melakukan penelitian, sambil kerja sebagai tenaga kontrak di PT. Indho Bharat Rayon, dengan upah yang hanya Rp 200.000,- Kemudian Dedi Mulyadi berhenti dan bekerja menjadi tenaga administrasi di PT. Binawan Praduta. Berhenti dari situ Dedi Mulyadi berjualan beras ke kantin dan pabrik-pabrik yang ada di Kabupaten Purwakarta.

Pada Tahun 1999, Dedi Mulyadi menjadi anggota DPRD Kabupaten Purwakarta dan menjabat sebagai Ketua Komisi E, dan sangat dikenal luas terutama oleh kalangan birokrat, politisi, kalangan muda serta mahasiswa akan kritik dan kemampuan argumentasi. Dedi Mulyadi masuk kerja sebagai Anggota DPRD pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 18.00 sore. Pada Tahun 2003 nasib mengantarkan Dedi Mulyadi menjadi Wakil Bupati Purwakarta dan pada Tahun 2008, melalui mekanisme Pilkada langsung, Dedi Mulyadi dipercaya oleh rakyat Purwakarta menjadi Bupati Purwakarta periode 2008-2013.

Demikian sekelumit kisah hidup Dedi Mulyadi, yang menjadi kenangan serta pengalaman yang sangat berharga bagi Dedi Mulyadi dalam menjalani kehidupan sebagai pribadi dan pimpinan daerah di Kabupaten Purwakarta.

0 komentar: