Hakikat Kesaksian Rasulullah

Ini adalah risalah ringkas sekitar (hakikat bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), kami merasa perlu mempublikasikannya untuk manusia. Dan karena kami melihat banyaknya kebodohan di kalangan umat Islam dan selain mereka, terhadap hakikat bersaksi/syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah, terjerumusnya mereka dalam perkara yang menyalahinya dari perkara yang yang seharusnya, atau bertentangan dengan kesempurnaannya, atau mengurangi keimanan hamba terhadapnya.

Maka sudah menjadi keharusan bahwa kami menjelaskan hal itu, sebagai nasehat bagi Allah, bagi rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslim secara umum, karena menjunjung perintah Allah:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
i Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa'at bagi orang-orang yang beriman. (QS. adz-Dzariyat:55)
dan firman-Nya:

فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَى
oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa'at, (QS. al-A'laa:9)
dan firman-Nya:

فَذَكِّرْ إِنَّمَآأَنتَ مُذَكِّرُُ- لَسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang memberi peringatan. * Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mererka, (QS. al-Ghasyiyah:21-22)
Dan ayat-ayat lainnya.
Dan karena sabda Rasulullah: 'Agama adalah nasehat, agama adalah nasehat, agama adalah nasehat.' Para sahabat bertanya, 'Untuk siapa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: 'Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum dari mereka.' HR. Muslim.
Maka merupakan suatu kewajiban setiap orang yang mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya: bahwa ia harus menjelaskannya dan menyebarkannya di antara manusia. Terutama di masa sekarang, yang mana keterasingan Islam makin bertambah kuat, kebaikan menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi baik padanya, sedikit sekali orang yang mengangkat kepalanya dengan kebenaran dan menampakkannya, maka tidak ada daya dan upaya kecuali Allah.
Dan sabda Rasulullah menjadi penghibur kita:

بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
'Islam bermula sebagai suatu yang asing, dan akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.'
Maka aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa: agar memberi nikmat kepada kita dengan memberikan hidayah kepada kebenaran, taufik untuk kebenaran, dan supaya Dia memberi ilham kepada kita kepada petunjuk kita, memelihara kita dari kejahatan diri kita, memperlihatkan kepada kita kebenaran bahwa ia adalah benar dan memberikan rizqi kepada kita untuk mengikuti, dan kebatilan adalah batil dan memberi rizqi kepada kita untuk menjauhinya, dan semoga Dia memperbaiki niat dan perbuatan kita, dan semoga Dia memberi manfaat dengan sesuatu yang kami ikat dalam risalah ini kepada setiap orang yang mempelajarinya, dan menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum muslimin termasuk orang yang tolong menolong di atas kebaikan dan taqwa, sesungguhnya Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Tatkala Allah menciptakan nabi Adam dan meniup ruh padanya, Dia menyuruh para malaikat sujud kepadanya. Dan iblis termasuk dari golongan jin, bukan dari golongan malaikat. Dan sesungguhnya ia masuk dalam khithab mereka karena ia mempunyai kemiripan dengan perbuatan para malaikat, miripnya ia dengan mereka, ibadah dan pengabdiannya. Akan tetapi ketika mereka diperintahkan sujud, para malaikat sujud, iblis yang terkutuk tidak mau sujud:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah:34)
Dan Allah berfirman dalam surah al-Kahf:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا ِلأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلآَّ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. (QS. al-Kahf 50)
Ia enggan sujud kepada Adam karena sombing, dengki dan zalim. Maka hukumannya bahwa ia terusir dari rahmat Allah dan mendapat kutukan Allah. Akan tetapi orang yang jahat bertambah kejahatannya, sangat besar sifat dengkinya kepada Adam dan keturunannya, dan ia meminta kepada Allah agar dipanjangkan umurnya hingga hari kiamat, lalu Allah mengabulkan permintaannya. Saat itulah ia berkata –sebagaimana yang diceritakan Allah:

قَالَ فَبِمَآأَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab:"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, * kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at). (QS. al-A'raaf:16-17)
Maksudnya: sesungguhnya ia bersumpah akan menyesatkan hamba-hamba Allah  dari keturunan Adam dari jalan yang lurus dan lorong keselamatan supaya mereka tidak menyembah dan mengesakan Allah, dan ia melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi mereka dari kebaikan dan membuat mereka suka terhadap keburukan.
Dan semisalnya, firman Allah menceritakan beritanya:

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis berkata:"Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, * kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka". (QS. al-Hijr :39-40)
dan firman-Nya:

قَالَ أَرَءَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَىَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَتَهُ إِلاَّ قَلِيلاً
Dia (iblis) berkata:"Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". (QS. al-Isra`:62)
Maka ia selalu berusaha menyesatkan Adam dan keturunannya sehingga menyebabkan diturunkannya Adam dari surga dan salah seorang anaknya membunuh saudaranya. Ia tidak merasa cukup hanya sampai di sini. Tatkala keturunan Adam telah melewati beberapa kurun waktu dan masa kenabian telah berlalu lama, ia memandang baik baik perbuatan syirik kepada mereka dan menyesatkan mereka. maka baginya apa yang dia kehendaki. dan iblis membenarkan dugaannya atas mereka, lalu mereka mengikutinya dan mereka terjerumus dalam perbuatan syirik. Hal itu terjadi pertama kali di masa nabi Nuh ketika mereka menyembah berhala-berhala: Wadd, suwaa', yaghuts, ya'uq, dan nasr. Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala mereka telah wafat, syetan menyarankan kepada kaum mereka agar membuat patung di majelis-majelis yang mereka dahulu mereka duduk dan memberi nama sesuai nama mereka. maka mereka melakukan, namun belum disembah. Hingga apabila mereka telah wafat dan ilmu mulai sirna, patung itu mulai disembah. Inilah yang dijelaskan Ibnu Abbas, sebagaimana diceritakan dalam al-Bukhari.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Muhammad bin Qais, ia berkata, 'Mereka adalah orang-orang shalih dari keturunan Adam. Mereka mempunyai para pengikut yang selalu menjadikan mereka suri tauladan. Tatkala mereka telah wafat, teman-teman yang mengikuti mereka berkata, 'Andaikan kita membuat gambar/patung mereka niscaya membuat kita lebih rindu beribadah apabila kita teringat mereka. Lalu mereka membuat patung mereka. Tatkala mereka telah wafat dan datanglah generasi selanjutnya, iblis berkata kepada mereka: sesungguhnya mereka (para pendahulu) menyembah mereka, dengan sebab mereka, mereka diturunkan hujan, maka mereka menyembah mereka (patung-patung orang-orang shalih).
Seperti inilah awal terjadinya perbuatan syirik dalam sejarah umat manusia, karena penyesatan iblis kepada mereka. Akan tetapi Allah dengan hikmah, ilmu, dan rahmat-Nya kepada hamba-Nya, Dia tidak membiarkan mereka terlena disesatkan iblis dan tentaranya. Bahkan Dia mengutus para rasul kepada mereka, untuk menjelaskan agama yang benar kepada mereka, memberikan peringatan dari perbuatan syirik dan sesat, sebagai rahmat dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan untuk menegakkan hujjah atas mereka:

لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَن بَيِّنَةٍ وَيَحْيَ مَنْ حَيَّ عَن بَيِّنَةٍ
yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula). (QS. al-Anfaal: 42)
dan Allah berfirman:

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. an-Nisaa`:165)
Dan Dia berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ فَمَنْ ءَامَنَ وَأَصْلَحَ فَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ . وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَاكَانُوا يَفْسُقُونَ
Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. * Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. al-An'aam:48-49)
Dan dalam ash-Shahihain, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata, 'Rasulullah bersabda:

لاَ أَحَدَ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ, وَلِذلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ ماَظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ, وَلاَ أَحَدَ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدحُ مِنَ اللهِ عز وجل, وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ
"Tidak ada seseorang yang lebih cemburu dari pada Allah, karena itulah Dia mengharamkan perbuatan keji, yang nampak darinya dan yang tersembunyi. Dan tidak ada seseorang yang lebih suka dipuji dari pada Allah, karena itulah Dia memuji diri-Nya."
Dan dalam lafazh Muslim:

مِنْ أَجْلِ ذلِكَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ وَأَرْسَلَ الرّسُلَ
'Karena itulah Dia menurunkan kitab dan mengutus para rasul.'
Dan di dalam ash-Shahihain, dari hadits Sa'ad bin 'Ubadah: 'Dan tidak ada seseorang yang lebih menyukai uzur kepadanya daripada Allah, karena itulah Allah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.'
Maka Allah mengutus para rasul untuk mendirikan hujjah terhadap hamba-hamba-Nya dan menolak alasan bagi mereka. Risalah-risalah ini merupakan nikmat Allah kepada semua makhluk-Nya. Karena kebutuhan manusia kepadanya di atas semua kebutuhan, dan ketergantungannya kepadanya di atas semua ketergantungan. Mereka membutuhkan risalah melebihi kebutuhan kepada makan, minum, dan obat, karena dampak kekurangan hal itu atas tidak adanya adalah kebinasaan badan. Adapun risalah, maka padanya merupakan kehidupan hati dan agama. Bahkan, risalah merupakan kebutuhan dalam memperbaiki hamba dalam kehidupan dan tempat kembalinya. Maka sebagaimana tidak ada kebaikan baginya di akhiratnya kecuali dengan mengikuti risalah, demikian pula tidak ada kebaikan baginya dalam kehidupan dan dunianya kecuali dengan cara mengikuti risalah, sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menetapkan hal itu.
Allah mengutus para rasul dan menjadikan mereka sebagai manusia dari golongan kaumnya dan dengan bahasa mereka, untuk menjelaskan kepada mereka agama yang benar:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِي مَن يَشَآءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {4}
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petinjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.Dan Dia-lah Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ibrahim :4)
Dan setiap umat telah diutus rasul kepada mereka, firman Allah :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ
Tiap-tiap umat mempunyai rasul. (QS. Yunus:47)
Dan firman-Nya :

وَإِن مِّن أُمَّةٍ إِلاَّ خَلاَ فِيهَا نَذِيرٌ
Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir :24)
Mereka semua diutus dengan satu agama, yaitu agama islam, ikhlas agama hanya karena Allah, memurnikan tauhid hanya untuk-Nya, dan menjauhi ibadah kepada selain-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu", (QS. an-Nahl:36)
Dan Allah berfirman:
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:"Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. an-Nahl :25)
Dan dalam sebuah hadits dari Nabi :

اََلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ
"Para nabi adalah saudara bagi satu keluarga, ibu mereka bermacam-macam dan agama mereka adalah satu." Muttafaqun 'alaih.
Demikian pula setiap rasul menyuruh kaumnya untuk taat kepadanya, karena ini adalah tuntutan risalah, firman Allah:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seijin Allah.. (QS. an-Nisaa` :64)
Dan para rasul senantiasa datang kepadanya untuk mengajak mereka kepada tauhid dan meninggalkan syirik:

ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتَرَا
Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. (QS. al-Mukminun :44)
Hingga datang Musa dan sesudahnya Isa dan jelas di dalam kitab mereka kabar gembira dengan Nabi.
Firman Allah:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, (QS. al-A'raaf:157)
Dan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَاءِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata:"Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)".. (QS.ash-Shaaf:6)

Dan setelah nabi Isa diangkat (ke langit) dan lamanya tenggang waktu yang dialami anak cucu Adam sebelum kebangkitan Nabi, iblis menyerang umat manusia dengan pasukan berkuda dan pasukannya yang berjalan kaki, maka ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sangat jauh, menjerumuskan mereka di dalam perbuatan kufur, syirik dan sesat dengan berbagai macam jenisnya kecuali sedikit sekali dari mereka. Kondisi mereka sudah mencapai batas yang menyebabkan kemurkaan Allah, bangsa arab dan non arab (ajam) dari mereka, kecuali sedikit sekali.
Kemudian diutus nabi Muhammad yang bersabda:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

"Wahai sekalin manusia, sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan."

0 komentar: