Istiqamah


“Dari Sofyan bin Abdullah Ats-Tsaqofi berkata, sesungguhnya seorang laki-laki berkata : “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada seseorang selain hanya kepada engkau,” Rasulullah berkata :” Katakanlah ! Aku beriman kepada Allah kemudian Istiqamah.” (Sebagai tambahan) Aku berkata :
“Ya Rasulullah apa yang harus aku jaga ?” Maka Rasulullah mengisyaratkan kepada lidahnya sendiri dan berkata : “ini” ( HR. Muslim di dalam shahihnya ).
Menurut hadits Muslim tersebut diatas, kita bisa mengerti bahwa sesudah Iman kepada Allah ialah Istiqamah sebagai pasangan dan sekaligus syarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Istiqamah menjadi sikap yang amat penting dan perangkat yang tidak bisa dipisahkan dalam mewujudkan Iman dan Akhlaqul Kariimah.
Istiqamah menurut bahasa artinya : lurus, lempang dan tidak berbelok-belok. Umar bin Khathab menjelaskan bahwa : Istiqamah itu tetap mengikuti perintah dan ( menjauhi ) larangan serta tidak menyimpang dari padanya.” Abu Bakar menambahkan, bahwa yang dimaksud dengan perkataan “ Istiqamu “ ialah ( sesudah beriman ) tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apapun.
Menurut ahli ma’rifat Istiqamah ialah, pertama Iman kepada Allah dan dua mengikuti ajaran Rasulullah baik secara lahir maupun bathin. Allah berfirman : “ Dan tetaplah ( Istiqamah ) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” ( QS. Asy-Syura : 15 ).
Dengan pengertian tersebut diatas maka Istiqamah harus menjadi karakter dan kepribadian orang-orang beriman. Seperti apa yang menjadi motto dan garis hidup orang-orang beriman bahwa, hidup ialah pengabdian, perjuangan dan pengorbanan. Tanpa iman dan pendirian yang teguh ( Istiqamah ) tidak mungkin dapat mempertahankan eksistensi dirinya sebagai orang beriman. Kemungkinan jika ia berhasil dalam karir, tapi goyah pendiriannya dan luntur kepribadiannya, bisa-bisa iman dan Agamanya pun tergadaikan. Sebaliknya bila gagal dalam hidup ia akan putus asa dan tegoncang jiwanya. Dua kerugiannya secara fisisk ia gagal dan rendah nilai pribadinya.
Istiqamah adalah Jiwa Besar yang dimiliki oleh para Nabi.
Hanya orang-orang berjiwa besarlah yang dapat memikul tanggung jawab yang besar. Para Nabi kekasih Allah dipilih untuk melaksanakan tugas besar ini dan mereka mampu melaksanakan dengan sebaik-baiknya, demikian juga selanjutnya seperti para shahabat, orang-orang shalih terdahulu karena mereka memiliki sifat Istiqamah, berpendirian teguh sesudah imannya. Istiqamah melahirkan sifat percaya diri dan optimis, sifat-sifat inilah yang menjadi energi penggerak kemauan yang keras untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang luhur.
Al-Qur’an telah mengabadikan ibrah ( contoh ) para Nabi kekasih-kekasih Allah dalam memperjuangkan misinya sebagai utusan Allah. Nabi Nuh ‘Alaihis salam dalam melakukan da’wahnya di hadang dengan kedurhakaan kaumnya dan di antara yang menghadang itu justru buah hati dan belahan jiwanya yaitu istri dan anak kandungnya sendiri. Tapi jiwanya tidak tergoncang dan tidak terpengaruh oleh sentuhan yang paling mendasar, karena beliau memiliki sifat amanah.
Nabi Musa ‘Alaihis salam harus berhadapan dengan raja yang mengklaim sebagai maharaja yang berkuasda absolute dan semena-mena sehingga harus berhadapan dengan tukang sihir dan kejaran bala tentara yang sangat kuat sehingga sampai di Laut merah. Keadaan amat kritis, dibelakang tentara kafir semakin mendekat sementara di depan mereka laut siap menenggelamkannya. Allah memperkaya jiwa Nabi Musa as. Dengan Istiqamah yang melahirkan optimisme dan tawakal akhirnya tepat pada waktunya pertolongan Allah datang dengan mu’jizat yang amat terkenal dengan tongkatnya membelah Laut Merah.
Nabi Muhammad tidak diragukan lagi keteguhan jiwanya,peristiwa demi peristiwa, tantangan dan ancaman dilaluinya dengan para shahabat. Berapa kali usaha pembunuhan terhadap diri beliau dilakukan oleh mereka dan berapa kali usaha penyerbuan mereka untuk menghancur leburkan kaum muslimin.Psy War dan provokasi mereka tidak menggetarkan hati Rasul dan para shahabat, bahkan menambah iman dan mereka berkata : “ Hasbunallah wa ni’mal wakil” cukup bagi kami Allah ( sebagai pelindung ) dan sebaik-sebaik yang kami serahi. Kemudian segala rintangan dapat diatasai, kemenangan dan kemuliaan dapat diraih dengan izin Allah hanya dengan iman dan istiqamah.
Perhatian Allah terhadap orang Beriman yang Istiqamah.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah maka malaikat akan turun kepada mereka ( dengan mengatakan ) : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh ( pula ) didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan ( bagimu ) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Fushilat : 30-32 ).
Tafsir Depag RI menjelaskan : “Kepada orang-orang beriman dan ( istiqamah ) berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Allah menurunkan malaikat dengan menyampaikan khabar yang menggembirakannya, memberikan yang bermanfaat, menolak kemudharatan, menghilangkan duka cita yang mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun ukhrawi, sehingga dadanya menjadi lhttp://www.blogger.com/img/blank.gifapang dan tentram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka. Sedang kepada orang-orang kafir yang datang adalah setan yang selalu menggoda mereka, sehingga setan menjadikan perbuatan buruk itu indah menurut pandangan mata mereka.
Demikian besar perhatian Allah terhadap orang-orang yang memiliki sifat istiqamah, dari merekalah lahir segala kebajikan dan keutamaan sekaligus merupakan konstribusi terhadap manusia dan kemanusiaan dalam kehidupan ini sesuai misi Islam yang bersifat rahmatan lil ‘alamin.


by

0 komentar: